 Blog For Free!
Archives
Home
2008 August
2008 July
2008 June
2008 May
2008 April
2008 March
2008 February
2008 January
2007 December
2007 November
2007 October
2007 September
2007 August
2007 July
2007 June
2007 May
2007 April
2007 March
2007 February
2007 January
2006 December
2006 November
2006 October
2006 September
2006 August
2006 June
2006 May
2006 April
2006 March
2006 February
2006 January
2005 December
2005 November
2005 October
2005 September
tBlog
My Profile
Send tMail
My tFriends
My Images
Sponsored
Blog
|
| Bike with my Kids |
| 02.18.07 (4:19 pm) [edit] |
|
Sisa hujan yg turun hari Jum'at 16 tidak menyurutkan saya dan anak-anak juga tetangga untuk main sepeda MTB pada hari Sabtunya.
Awalnya jalanan masih lumayan agak kering lah.. namun pada waktu arah pulang ke rumah dengan rute jalan yg berbeda, ternyata jalanan parah banget seperti lumpur / bubur tanah deh... ampun beceknya. Tapi semua pada ketawa-ketawa saja tuh... berarti mereka juga enjoy jalanan jelek begitu. Apalagi si adek, sepatu pada kemasukkan air lumpur.. wah parah.
Sampai dirumah langsung deh cuci dengan alat jet spray, lumayan juga tuh hemat tenaga gak perlu pake di sikat sudah bersih sendiri. Mana 3 sepeda lagi... belum ditambah dengan cuci sepatu juga...
Hari Minggunya, gantian ana pergi sendiri biking ke Sentul. Cabut jam 5.30 and end at 8.35
Rute home - tanah baru - sentul - bj koneng - sentul depan - ciluar permai - tanah baru - home.
Lumayan dapat rute baru lagi nih.
Cuma catatan saja, kalo di Bj koneng sedang ada buldozer sedang meratakan tanah, katanya sih lagi mau dibuat studio, mungkin studio musik kali ya... sayang tanah berkurang lagi untuk hisap air hujan.
Yaa begitulah mereka yg punya uang tidak masalah invest rumah / villa di situ, memang udaranya sejuk dan view juga bagus.
Hope I could do the same like that.
|
|
|
| |
| Subhanallah Mengharukan... |
| 02.18.07 (4:08 pm) [edit] |
|
Pagi ini aku dapat email dari mailist Daarut Tauhid... isinya sangat mengarukan...
Semoga Allah Mempertemukan Kita di Syurga
"Barangsiapa yang mengharapkan mati syahid dengan sepenuh hati, maka
Allah akan memberikan mati syahid kepadanya, meski ia mati di tempat
tidur."
Dunia, hanya satu terminal dari seluruh fase kehidupan. Hanya Allah yang
tahu, rentang usia seorang manusia. Saya, khadijah, sebut saja demikian,
menikah dengan Muhammad, 3 Oktober 1993. Muhammad, adalah kakak kelas
saya di IPB. Pernikahan saya, melalui tahap yang biasa dilakukan oleh
ikhwan dan akhwat. Saya tak pernah mengenal Muhammad sebelumnya. Dan,
seperti layaknya pasangan baru, fase ta'aruf, konflik, dan kematangan
pun saya alami.
Meski baru saling kenal, saya rasakan suami saya sangat sayang pada
saya. Seolah, tidak seimbang dengan apa yang saya berikan. Dia banyak
membantu. Apalagi ketika saya menyelesaikan tugas akhir kuliah. Bisa
dikatakan, ia sekretaris pribadi saya.
Selama menikah, suami sering mengingat kan saya tentang kematian, tentang
syurga, tentang syahid, dan sebagainya. Setiap kami bicara tentang
sesuatu, ujung-ujungnya bicara tentang kematian dan indahnya syurga itu
bagaimana. Kalau kita bicara soal nikmatnya materi, suami mengaitkannya
dengan kenikmatan syurga yang lebih indah. Bahkan, berulang-ulang dia
mengatakan, nanti kita ketemu lagi di syurga. Kalau saya ingat kata-kata
itu, itu bukan kata-kata kosong. Bahkan itu mempunyai makna yang dalam
bagi saya.
Hari itu, 16 Januari 1996, kami ke rumah orang tua di Jakarta. Seolah
suami saya mengembalikan saya kepada orang tua saya. Malam itu juga
suami saya mengatakan harus kembali ke Bogor, karena harus mengisi
diklat besok paginya. Menurutnya, kalau berangkat pagi dari Jakarta
khawatir terlambat.
Mendekati jam 12 malam, saya bangun dari tidur, perut saya sakit,
keringat dingin mengucur, rasanya ingin muntah. Saya bilang pada ibu
saya, untuk diobati. Saya kira maag saya kambuh. Saya sempat berpikir
suami saya di sana sudah istirahat, sudah tenang, sudah sampai, karena
berangkat sejak maghrib. Saya juga sempat berharap kalau ada suami saya,
mungkin saya dipijitin atau bagaimana, Tapi rupanya pada saat itulah
terjadi peristiwa tragis menimpa suami saya.
Jam tiga malam, saya terbangun. Kemudian saya shalat. Entah kenapa,
meskipun badan kurang sehat, saya ingin ngaji. Lama sekali saya
menghabiskan lembar demi lembar mushaf kecil saya. Waktu subuh rasanya
lama sekali. Badan saya sangat lelah dan akhirnya tertidur hingga subuh.
Pagi harinya, saya mendapat berita, dari seorang akhwat di Jakarta,
bahwa suami saya dalam kondisi kritis, Karena angkutan yang
ditumpanginya hancur ditabrak truk Tronton di jalan raya Parung.
Sebenarnya, waktu itu suami saya sudah meninggal. Mungkin sengaja
beritanya dibuat begitu biar saya tidak kaget. Namun tak lama kemudian,
ada seorang ikhwah Jakarta yang memberitahukan bahwa beliau sudah
meninggal. "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un".
Entah kenapa, mendengar berita itu hati saya tetap tegar. Saya sendiri
tak menyangka bisa setegar itu. Saya berusaha membangun keyakinan bahwa
suami saya mati syahid. Saya bisa menasehati keluarga dan langsung ke
Bogor. Di sana, suami saya sudah dikafani. Sambil menangis, saya
menasehati ibu, bahwa dia bukan milik kita. Kita semua bukan milik kita
sendiri, tapi milik ALLAH.
Alhamdulillah Allah memberi kekuatan, Kepada orang-orang yang berta'ziah
waktu itu, saya mengatakan, "Do'a kan dia supaya syahid ..... do'akan
dia supaya syahid." Sekali lagi, ketabahan saya saat itu semata datang
dari Allah. Kalau tidak, mungkin saya sudah pingsan.
Menjelang kematiannya yang amat mendadak, saya tidak merasakan firasat
atau tanda-tanda khusus. Hanya, seminggu sebelum suami meninggal, anak
saya sering menangis, meski dia tidak apa-apa. Mungkin, karena merasa
akan ditinggal oleh bapaknya. Entahlah.
Seperti tuntunan Islam, segala hutang orang yang meninggal harus
ditunaikan. Meski tidak ada catatannya, tapi tanpa disadari, saya ingat
sekali hutang-hutang suami. Saya memang sering bercanda sama suami, "Mas
kalau ada hutang, catat. Nanti kalau mas meninggal duluan saya tahu saya
harus bayar berapa." Canda itu memang sering muncul ketika kami bicara
masalah kematian. Sampai saya pernah bilang pada suami saya, "Kalau mas
meninggal duluan, saya yang mandiin. Kalau mas meninggal duluan, saya
kembali lagi ke ummi, jadi anaknya lagi." Semua itu akhirnya menjadi
kenyataan.
Beberapa hari setelah musibah itu, saya harus kembali ke rumah kontrakan
di Bogor untuk mengurus surat-surat. Saat saya buka pintunya, tercium
baru harum sekali. Hampir seluruh ruangan rumah itu wangi, Saya sempat
periksa barangkali sumber wangi itu ada pada buah-buahan, atau yang
lainnya. Tapi, tidak ada. Ruangan yang tercium paling wangi, tempat
tidur suami dan tempat yang biasa ia gunakan bekerja.
Beberapa waktu kemudian, dalam tidur, saya mimpi bersalaman dengan dia.
Saya cium tangannya, Saat itu dia mendo'akan saya: "Zawadakillahu taqwa
waghafara dzanbaki, wa yassara laki haitsu ma kunti". (Semoga Allah
menambah ketaqwaan padamu, mengampuni dosamu, dan mempermudah segala
urusanmu di mana saja). Sambil menangis, saya balas do'a itu dengan do'a
serupa.
Semasa suami masih hidup, do'a itu memang biasa kami ucapkan ketika kami
berpisah. Saya biasa mencium tangan suami bila ia ingin keluar rumah.
Ketika kami saling mengingat, kami juga saling mendo'akan.
Banyak do'a-do'a yang diajarkan suami saya. Ketika saya sakit, suami
saya menulis do'a di white board. Sampai sekarang saya selalu baca do'a
itu. Anak saya juga hafal. Saya banyak belajar darinya. Dia guru saya
yang paling baik. Dia juga bisa menjelaskan bagaimana indahnya syurga.
Bagaimana indahnya syahid.
Ketika suami meninggal, saya sedang hamil satu bulan, anak yang kedua.
Namanya sudah dipersiapkan oleh suami saya, Ahmad Qassam Amrul Haq,
kalau lahir laki-laki. Katanya Qassam itu diambil dari nama Izzuddin Al
Qassam. Izzuddinnya sudah sering dipakai, dia ingin mengunakan nama
Qassam-nya. Lalu, Amrul Haq itu memang nama yang paling dia sukai. Kalau
dia menulis di beberapa media, nama samarannya Abu Amrul Haq.
Banyak kesan baik dan kenangan indah yang saya alami bersama suami.
Menjelang kematiannya, saya pernah berta'ziyah ke rumah salah seorang
teman yang meninggal. Sepulang suami saya dari kerja, saya pernah tanya
pada suami, "Mas, kepikiran ngga' tentang mati ?" Kami tidak saling
menatap. Suami saya hanya bilang, "Memang ya, tidak ada yang tahu kapan
kematian itu akan datang, persiapkan saja diri kita."
Waktu saya wisuda, 13 Januari 1996, saya sempat bertanya pada suami,
"Mas nanti saya kerja di mana ?" Suami diam saja sejenak. Akhirnya suami
saya mengatakan, supaya wanita itu memelihara jati diri. Saya bertanya,
"Maksudnya apa ?" "Beribadah, bekerja membantu suaminya, dan
bermasyarakat. " Saya berpikir bahwa saya harus mengurus rumah tangga
dengan baik. Tidak usah memikirkan pekerjaan.
Alhamdulillah, setelah suami saya meninggal, Masya Allah, saya menerima
rejeki banyak sekali, lebih dari tiga belas juta. Saya tidak mengira,
sampai bingung, diapakan uang sebanyak ini.
Sekarang, setiap bulan saya hidup dari pensiun pegawai negeri suami.
Meskipun sedikit, tapi saya merasa cukup. Dan rejeki dari Allah tetap
saja mengalir. Allah memang memberikan rejeki kepada siapa saja yang dan
tidak tergantung kepada siapa saja. Katakanlah, meski suami saya tidak
ada, tapi rejeki Allah itu tidak akan pernah habis.
Insya Allah saya optimis dengan anak-anak saya. Saya ingat sabda Nabi,
"Aku dan pengasuh anak yatim seperti ini," sambil mengangkat dua jari
tangannya. Saya bukan pengasuh anak yatim, tapi ibunya anak yatim. Meski
masih kecil-kecil, saya sudah merasakan kedewasaan mereka lebih cepat
mengerti tentang kematian, tentang neraka, tentang syurga, bahkan
tentang syahid.
Rejeki yang saya terima, tak mustahil lantaran keberkahan mereka.
Dzikroyat, Tarbawi, Edisi 1 Th. 1 31 Mei 1999M / 15 Shafar 1420 H
|
|
|
| |
| Been away for a while |
| 02.13.07 (1:02 am) [edit] |
|
Haloo..
Wah lama tidak sempat nulis lagi di kolom kesangan ini. Tumben banyak sekali pekerjaan di kantor.
Awal bulan terjadi big flood in Jkt, almost 70% land are covered by water.. masya allah.
Kasian lihat berita di tv, ada rumahnya yg terendam sampai ke 3 meter even lebih... Temen sekantor malah 2 unit mobilnya terendam gak tau deh jadi apaan tuh, so pasti harus overhaul lah...
Last week saudara sepupu ipar menikah.. lumayan pesta yg bagus, makanannya berlimpah.. acaranya bagus, malah aku ketemu kawan lama sd... ha ah bayangin aja 20 th gak ketemu. Dia jadi perias pengantin sekarang. Disitu juga ketemu dengan Yudi, my old buddy from SD....
Sekarang kebetulan pekerjaan sudah pada selesai semua.. tapi access to yahoo agak error nih. Looking for good news... hopefully there will be good news for me. After 10 years a bit struggling here at present company. Ya Allah please answer my prayer.
Eh besok Feb the 14 yaa berarti Valentine's day dong. Whua ha ha barusan iseng ngetes ke Nane eh doi jawab eh situ salah satu pengikut ajaran yg begituan yaa ha h a pengin ketawa jadinya.
Anyway.. gak salah ana kasih ucapan ke semua.. happy Valentine bagi yg ngerayain...
|
|
|
| |
|
|